Safari Ramadan 1447 H di Samarang: Di Antara Pesan Moral, Harapan Warga, dan Ujian Nyata Kepemimpinan

SAMARANG — Menjelang waktu berbuka puasa, halaman Masjid Besar Kecamatan Samarang dipenuhi warga dari berbagai penjuru desa. Udara sejuk khas pegunungan Garut bercampur dengan percakapan pelan jamaah yang menanti kehadiran rombongan pemerintah daerah. Safari Ramadan 1447 Hijriah bukan sekadar agenda rutin keagamaan, tetapi menjadi ruang perjumpaan langsung antara kekuasaan dan rakyat—tempat harapan, kritik, dan pesan moral saling berkelindan.

Bupati Garut hadir bersama jajaran pemerintah daerah dan unsur Forkopimcam. Dalam sambutannya, ia menekankan tiga pilar kebersihan: kebersihan diri, kebersihan hati, dan kebersihan lingkungan. Pesan ini disampaikan dengan nada religius, mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum evaluasi diri sekaligus memperbaiki hubungan sosial dan lingkungan sekitar.

Namun, bagi sebagian warga Samarang, pesan tersebut tidak berdiri di ruang hampa. Di balik lantunan doa dan tausiyah, tersimpan realitas sehari-hari yang masih menuntut perhatian serius: persoalan sampah, drainase yang belum optimal, hingga fasilitas umum yang kerap dikeluhkan warga saat musim hujan tiba.

“Pesan kebersihan itu bagus, menyentuh hati. Tapi kami berharap bukan hanya imbauan. Lingkungan bersih juga butuh kebijakan dan tindakan nyata,” ujar seorang tokoh pemuda setempat usai berbuka puasa. Pernyataan ini mencerminkan suara akar rumput yang menginginkan kesinambungan antara narasi moral dan kerja konkret pemerintah.

Safari Ramadan kali ini juga disinggung sebagai bagian dari penguatan kebersamaan menjelang rencana pemekaran wilayah Samarang yang diwacanakan ke depan. Pemerintah menilai kesiapan sosial, ketertiban, dan kesadaran kolektif warga menjadi modal penting dalam proses tersebut. Namun, pemekaran bukan hanya soal administratif, melainkan juga kesiapan layanan publik, tata kelola lingkungan, dan keadilan pembangunan.

Di berbagai daerah lain di Indonesia, Safari Ramadan kerap menjadi panggung simbolik: kepala daerah menyapa warga, menyalurkan bantuan, sekaligus membangun citra kepemimpinan yang dekat dengan umat. Dalam konteks ini, Safari Ramadan tidak bisa dilepaskan dari dimensi sosial dan politik. Ia menjadi ruang legitimasi, tetapi juga ruang uji—apakah pesan-pesan yang disampaikan mampu diwujudkan setelah lampu panggung padam dan Ramadan berlalu.

Bagi warga Samarang, kehadiran pemerintah di masjid memberi harapan akan dialog yang lebih terbuka. Namun harapan itu disertai kewaspadaan kritis. Ramadan mengajarkan kejujuran dan pengendalian diri, termasuk bagi mereka yang memegang amanah kekuasaan. Pesan kebersihan hati, jika dimaknai lebih dalam, seharusnya juga berarti keberanian membersihkan kebijakan dari kepentingan sempit dan memastikan pelayanan publik berjalan adil.

Safari Ramadan 1447 H di Samarang akhirnya menjadi cermin bersama. Bukan hanya bagi masyarakat yang diajak memperbaiki diri, tetapi juga bagi pemerintah yang diuji konsistensinya. Apakah pesan moral itu akan berakhir sebagai ritual tahunan, atau menjadi awal perubahan nyata di tingkat lokal?

Jawabannya tidak ditentukan di mimbar masjid, melainkan dalam kebijakan, tindakan, dan keberpihakan setelah Ramadan usai.


NextGen Digital... Welcome to WhatsApp chat
Howdy! How can we help you today?
Type here...