Gemuruh di Pesisir Selatan: Simfoni Rudal Garda Revolusi Menantang Armada Washington
Gemuruh di Pesisir Selatan: Simfoni Rudal Garda Revolusi Menantang Armada Washington
Angin di pesisir selatan Iran mendadak sarat dengan aroma avtur dan mesiu pada Selasa, 24 Februari 2026. Langit yang biasanya terik di atas perairan strategis itu robek oleh raungan misil balistik dan dengungan mematikan pesawat nirawak. Di tengah bayang-bayang moncong meriam armada laut Amerika Serikat yang membelah perairan Teluk Persia, Teheran tidak memilih diam. Mereka justru menggelar karpet merah untuk sebuah unjuk kekuatan masif bersandikan Latihan Gabungan 1404.
Manuver militer ini bukanlah sekadar rutinitas pembakar kalori prajurit. Ini adalah sebuah teater geopolitik berdarah dingin. Sebagaimana dicatat dalam laporan terperinci dari kantor berita ANTARA yang menyadur pantauan Anadolu, Pasukan Darat Garda Revolusi Iran (IRGC) sengaja memamerkan taring tempur termutakhir mereka tepat ketika tensi dengan Washington berada di titik didih. Di bawah tatapan elang Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, pesisir pantai disulap menjadi benteng tak tertembus, merespons rentetan ancaman yang terus digaungkan dari Ruang Oval di belahan bumi lain.
Perkawinan Mematikan: Rezvan dan Shahed-136
Di lapangan, narasi kesiapan tempur diterjemahkan ke dalam bahasa ledakan yang presisi. Tidak ada lagi sekadar tembakan buta ke arah laut lepas. IRGC memamerkan sinkronisasi mengerikan antara rudal balistik Rezvan dan drone kamikaze legendaris, Shahed-136. Sistem navigasi baru yang disematkan memungkinkan pesawat nirawak bunuh diri tersebut menerima data target secara seketika dari unit rudal, menciptakan hujan api yang nyaris mustahil dihindari oleh konvoi musuh atau sistem pertahanan pesisir.
Komandan Pasukan Darat IRGC, Brigjen Mohammad Karami, mengorkestrasi seluruh unit—mulai dari artileri berat, infantri mekanis, hingga lapis baja—dalam satu simfoni pertahanan yang rapat. Skenarionya jelas: menghabisi siapa pun yang berani menginjakkan kaki di garis pantai Iran. Pasukan khusus bahkan melakukan simulasi perang anti-amfibi yang agresif, dipadukan dengan taktik pertahanan pasif dalam peperangan elektronik yang diungkapkan oleh Brigjen Mohammad Hadi Sefidchian, dirancang khusus untuk membutakan radar dan sistem komunikasi lawan.
Gentar di Teluk Persia, Genting di Jenewa
Namun, dentuman meriam di pesisir selatan ini resonansinya melampaui batas daratan Timur Tengah. Latihan tempur ini memancarkan pesan yang sangat jernih ke arah armada kapal induk dan pesawat pengebom Amerika Serikat yang baru saja dikerahkan secara provokatif ke kawasan tersebut. Presiden AS Donald Trump telah menarik garis merah yang tegas, mengancam akan menekan tombol agresi militer jika Teheran terus mengulur waktu terkait ambisi program nuklirnya.
Paradoksnya, di saat moncong rudal saling berhadapan di Teluk Persia, para diplomat bersiap menata meja bundar. Sebuah perundingan nuklir putaran ketiga, yang dijembatani oleh kesabaran diplomasi Oman, dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis pekan ini. Iran diproyeksikan datang ke meja perundingan dengan membawa draf cetak biru nuklirnya, sementara tangan mereka yang lain tetap menggenggam tuas peluncur misil. Ini adalah diplomasi di atas laras senapan, di mana setiap salah kalkulasi bisa memicu neraka regional yang tak terpadamkan.
Pada akhirnya, unjuk gigi Garda Revolusi di sepanjang garis pantai selatan adalah sebuah pertaruhan psikologis tingkat tinggi. Teheran ingin membuktikan bahwa sanksi dan kepungan armada militer Barat tidak sedikit pun menumpulkan insting bertahan hidup mereka, melainkan justru mengasah taring persenjataan asimetris mereka. Ketegangan yang membayangi perairan Teluk Persia kini bukan lagi sekadar gertakan di atas kertas; ini adalah bom waktu yang jarumnya terus berdetak tanpa ampun menuju bilik perundingan Jenewa. Dunia kini menahan napas, menanti apakah supremasi akal sehat diplomasi mampu meredam ego para jenderal, atau justru lautan api yang akan menjadi resolusi akhirnya. Untuk menelusuri lebih jauh analisis geopolitik, dinamika konflik global, serta intrik di balik layar meja perundingan, kunjungi www.lensakeadilan.id.
Join the conversation