Menanggalkan Jubah Oxford demi Sepetak Sawah Sleman: Antitesis Keangkuhan Intelektual
Menanggalkan Jubah Oxford demi Sepetak Sawah Sleman: Antitesis Keangkuhan Intelektual
Angin sepoi-sepoi menyapu hamparan padi yang menguning di Desa Bimomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Di tengah lanskap pedesaan Yogyakarta yang lambat dan tenang, sebuah mesin waktu menuju masa depan sedang dirakit. Tidak ada menara gading atau laboratorium megah berdinding kaca di sini. Namun, dari ruang-ruang kelas berkonsep terbuka yang menyatu dengan alam inilah, algoritma kecerdasan buatan dan kode-kode robotika dipecahkan oleh remaja belasan tahun. Di garis depan ruang kelas itu berdiri Aishah Prastowo, seorang perempuan yang menukar gemerlap karier akademik di Eropa dengan seragam guru sekolah menengah.
Langkahnya terasa bak anomali. Di saat jagat maya tengah mendidih oleh kontroversi seorang penerima beasiswa negara yang secara pongah memamerkan paspor Inggris sang anak—seolah menjustifikasi keengganannya pulang kandang—Aishah justru memilih jalan memutar. Merujuk pada laporan mendalam yang dipublikasikan oleh Kompas.com pada 25 Februari 2026, Aishah adalah alumnus generasi pertama (PK-6) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ia menuntaskan studi doktoralnya di bidang Ilmu Teknik di Universitas Oxford, namun alih-alih menetap di negara maju, ia pulang untuk mengabdi di akar rumput.
Jejak Sang Anak Ajaib di Benua Biru
Kecerdasan Aishah bukanlah karbitan semalam. Tumbuh dari rahim keluarga akademisi—ayahnya seorang dosen fisika dan ibunya pakar kimia dari Universitas Gadjah Mada—udara yang dihirupnya sejak kecil adalah sains. Ketertarikannya pada hukum alam membawanya meraih kursi mahasiswa sarjana di usia yang sangat belia, 16 tahun. Tidak berhenti di situ, ia menaklukkan Paris pada usia 20 tahun melalui beasiswa pemerintah Perancis untuk studi magister lintas disiplin.
Rasa hausnya akan misteri sains tidak pernah tuntas hanya lewat magang laboratorium singkat. Dorongan itu membawanya mengetuk pintu Oxford pada tahun 2014, saat usianya baru menginjak 23 tahun. Di sana, ia membedah dunia mikrofluida multifase—sebuah teknologi manipulasi cairan berskala nano yang berpotensi merevolusi alat diagnostik medis agar lebih murah dan terjangkau hingga ke pelosok dunia. Nama Aishah bertengger di berbagai jurnal internasional bergengsi tingkat Q1. Jalan tol menuju karier sebagai ilmuwan global sudah terbentang luas di hadapannya.
Tumbukan Realitas dan Lahirnya Bahasa Cinta yang Baru
Namun, kehidupan memiliki variabel tak terduga yang kerap mengacaukan rumus di atas kertas. Fase pascawisuda Aishah berbenturan dengan realitas baru: pernikahan, peran sebagai ibu, dan hantaman badai pandemi Covid-19. Laboratorium tertutup, dunia terisolasi. Dalam jeda panjang itulah, Aishah menemukan panggung yang berbeda. Ia mulai membuka kelas penulisan akademik daring, membimbing siswa dari berbagai daerah yang bersiap menghadapi olimpiade penelitian, hingga mengawal calon mahasiswa menembus kampus luar negeri.
Interaksi lintas layar itu mengubah perspektif sang doktor. Jika selama ini ia berkomunikasi melalui cairan berskala mikroliter di bawah lensa mikroskop, ia kini menemukan kepuasan melihat percikan pemahaman di mata murid-muridnya. Dunia penelitian tidak pernah ia tinggalkan, melainkan ia terjemahkan ke dalam dialek yang berbeda. Pengalaman mengajar di Alta Global School menjadi kawah candradimuka yang mematangkan keputusannya untuk terjun total ke ekosistem pendidikan dasar dan menengah.
Praxis High School: Menyemai Sintesis di Lahan Agraris
Pada tahun 2024, ambisi itu mewujud menjadi Praxis High School. Aishah menyadari bahwa gelombang otomatisasi akan menyapu bersih banyak lapangan pekerjaan konvensional. Sekolah yang ia rintis tidak sekadar mengejar nilai rapor, tetapi mengawinkan pendekatan akademik dengan kesiapan mental menghadapi era kecerdasan buatan. Transformasi dari sebuah lembaga pelatihan teknologi (bootcamp) menjadi sekolah menengah atas formal ini menggunakan kurikulum berbasis Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika (STEAM).
Hasilnya bukan sekadar janji manis. Di bawah asuhannya, anak-anak SMA di desa itu mampu menyabet juara kompetisi robotika di Vietnam, bahkan sukses mencatatkan nama mereka sebagai penulis pendamping dalam jurnal manajemen hutan terkemuka. Aishah membuktikan bahwa pendidikan berkelas dunia tidak harus selalu berada di pusat kota metropolitan. Dengan kepemimpinan yang tepat, anak-anak dari tepi sawah pun bisa berbicara dalam bahasa masa depan.
Pada akhirnya, pengabdian sejati tidak selalu diukur dari seberapa bergengsi cap stempel di paspor, melainkan seberapa dalam jejak yang ditinggalkan di tanah air. Kisah Aishah Prastowo adalah tamparan keras bagi kaum intelektual yang acap kali menjadikan beasiswa negara sekadar batu loncatan untuk mobilitas kelas sosial pribadi. Ia membuktikan bahwa ilmu pengetahuan setinggi langit tidak ada artinya jika tidak mengakar ke bumi dan memanusiakan manusia di sekitarnya. Untuk menyelami lebih jauh ragam laporan investigasi terkait ketimpangan pendidikan, kebijakan publik, dan potret keadilan sosial di Indonesia, silakan kunjungi www.lensakeadilan.id.
Join the conversation